Keterbatasan Infrastruktur, Warga Mengkatip Keluhkan Listrik dan Akses ke Buntok

Ilustrasi warga desa yang belum merasakan meratanya pembangunan infrastruktur.

SUAPIKIR.com, BUNTOK – Warga Kelurahan Mengkatip, Kecamatan Dusun Hilir, Kabupaten Barito Selatan, masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dasar berupa layanan listrik yang belum beroperasi 24 jam serta akses transportasi menuju Buntok yang dinilai mahal dan memakan waktu lama.

Salah seorang warga Mengkatip, Nyong (53), mengatakan kondisi listrik yang padam pada siang hari telah berlangsung selama bertahun-tahun. Menurutnya, listrik PLN umumnya baru menyala sekitar pukul 16.00 WIB dan kembali padam pada pukul 06.00 WIB.

“Kalau siang, ya, mati total. Kondisi ini sudah berlangsung sejak lama sampai sekarang, belum ada perubahan,” ujarnya.

Keterbatasan pasokan listrik tersebut turut memengaruhi aktivitas digital masyarakat. Meski jaringan internet di wilayah itu dinilai cukup baik, warga kesulitan mengisi daya perangkat elektronik saat listrik padam.

Nyong mengatakan kondisi tersebut berdampak pada pelajar, pelaku usaha kecil, hingga masyarakat yang mengandalkan komunikasi daring dalam aktivitas sehari-hari.

“Jaringan internet di sini sebenarnya lumayan bagus. Tapi masalahnya, kalau siang hari baterai HP habis, kami mau tidak mau tidak bisa menggunakan HP lagi. Semua aktivitas digital langsung terputus karena tidak ada daya untuk mengisi baterai,” katanya.

Sebagian warga menggunakan genset sebagai alternatif. Namun, solusi tersebut tidak dapat dijangkau seluruh masyarakat karena membutuhkan biaya tambahan untuk bahan bakar dan operasional.

Selain persoalan listrik, warga juga mengeluhkan akses menuju Buntok yang masih terbatas. Saat ini masyarakat mengandalkan jalur sungai menggunakan speedboat atau kombinasi perjalanan kelotok dan jalur darat melalui kawasan perusahaan.

Menurut warga, tarif speedboat menuju Buntok mencapai sekitar Rp180 ribu per orang. Sementara biaya perjalanan dengan membawa sepeda motor dapat mencapai sekitar Rp 300 ribu sekali jalan.

Pilihan lain adalah menggunakan kelotok selama sekitar satu jam dengan biaya Rp75 ribu, termasuk sepeda motor, kemudian melanjutkan perjalanan darat melalui jalur perusahaan selama kurang lebih lima jam.

Kondisi tersebut membuat warga masih bergantung pada akses milik perusahaan untuk menjangkau ibu kota kabupaten. Meski lebih terjangkau dibanding menggunakan speedboat penuh, waktu tempuh perjalanan dapat mencapai sekitar enam jam.

Warga menilai akses darat publik yang langsung menghubungkan Mengkatip dengan Buntok masih menjadi kebutuhan mendesak, terutama untuk mendukung pelayanan kesehatan, pendidikan, administrasi, dan kegiatan ekonomi masyarakat.

Selain akses antardaerah, kondisi jalan lingkungan di Kelurahan Mengkatip juga menjadi perhatian warga. Mereka menilai sejumlah ruas jalan mengalami kerusakan dan perbaikan yang dilakukan belum bertahan lama.

“Pembangunan itu seolah-olah cuma ada di Buntok saja kelihatannya. Di Mengkatip ini jalanan hancur bertahun-tahun, kalau diperbaiki tidak sampai setahun sudah rusak lagi,” kata Nyong.

Warga berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian terhadap pemerataan pembangunan infrastruktur di wilayah tersebut. Mereka menginginkan peningkatan layanan listrik menjadi 24 jam, perbaikan jalan lingkungan yang lebih berkualitas, serta pembangunan akses darat publik menuju Buntok.

Harapan tersebut kembali mengemuka setelah kunjungan kerja Penjabat Bupati Barito Selatan ke Kelurahan Mengkatip pada pertengahan 2025. Warga berharap hasil kunjungan tersebut dapat ditindaklanjuti melalui program pembangunan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Bagi warga Mengkatip, ketersediaan listrik dan akses transportasi yang memadai menjadi kebutuhan dasar untuk mendukung aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, serta komunikasi sehari-hari.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *