Soroti Laba Agrinas, Ekonom UPR Minta Penjelasan Transparan kepada Publik

Ilustrasi ekonomi, laba, laporan keuangan.

SUAPIKIR.com, PALANGKA RAYA – Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangka Raya (UPR), Suherman, menilai selisih antara surplus operasional dan laba bersih Agrinas perlu dijelaskan secara terbuka kepada publik.

Menurutnya, transparansi menjadi aspek penting agar masyarakat dapat memahami kondisi keuangan perusahaan secara utuh.

Suherman mengatakan perbandingan angka dalam laporan keuangan tidak dapat langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya penyimpangan. Laporan keuangan, menurutnya, harus dibaca secara menyeluruh sebelum menarik kesimpulan.

“Kita tidak bisa langsung menyimpulkan ada skandal kalau hanya melihat perbandingan antara laba bersih, surplus operasional, dan luas lahan. Laporan keuangan harus dibaca secara utuh,” ujarnya.

Ia menjelaskan, besarnya surplus operasional tidak selalu berbanding lurus dengan laba bersih. Sejumlah komponen dapat memengaruhi laba perusahaan, seperti beban bunga, penyusutan aset, pajak, biaya restrukturisasi, kerugian selisih kurs, pencadangan, hingga biaya nonoperasional lainnya.

Menurut Suherman, berbagai faktor tersebut merupakan bagian yang lazim dalam penyusunan laporan keuangan perusahaan.

Meski demikian, ia menilai selisih antara surplus operasional dan laba bersih dalam laporan Agrinas cukup besar sehingga patut menjadi perhatian publik.

“Kalau diperhatikan datanya, selisih antara surplus operasional dan laba bersih cukup besar. Kondisi ini perlu dijelaskan secara transparan kepada publik,” katanya.

Suherman menilai perusahaan perlu memberikan penjelasan mengenai komponen beban yang menyebabkan penurunan laba bersih. Selain itu, publik juga perlu mengetahui apakah terdapat biaya yang bersifat satu kali (one-off), bagaimana struktur utang perusahaan, serta sejauh mana efisiensi pengelolaan aset dan lahan.

Ia menambahkan, keterbukaan informasi merupakan bagian penting dari penerapan prinsip good corporate governance (GCG).

“Jika laporan keuangan telah diaudit dan seluruh penjelasan atas pos-pos material disampaikan secara terbuka, publik dapat menilai apakah kondisi tersebut merupakan konsekuensi bisnis yang wajar atau terdapat persoalan yang memerlukan evaluasi lebih lanjut,” ujarnya.

Suherman menegaskan, yang dibutuhkan saat ini bukanlah spekulasi, melainkan penjelasan komprehensif dari perusahaan mengenai penyebab rendahnya laba bersih dibandingkan surplus operasional.

“Transparansi dan akuntabilitas menjadi fondasi untuk menjaga kepercayaan publik terhadap pengelolaan perusahaan. Apa yang terjadi sekarang harus bisa dijelaskan secara terbuka kepada publik,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *