Kotim Terancam Kemarau Ekstrem 3 Bulan, Warga Diimbau Siapkan Cadangan Air Bersih
SUAPIKIR.com, SAMPIT – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengimbau masyarakat menyiapkan cadangan air bersih menjelang musim kemarau yang diperkirakan berlangsung selama tiga bulan, mulai Juli hingga September 2026. Imbauan tersebut disampaikan menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi kekeringan dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan musim kemarau tahun ini berpotensi memicu kekeringan cukup ekstrem di sejumlah wilayah.
“Jadi sejak bulan Juli, Agustus, sampai September 2026, air tanah diprediksi di bawah 20 milimeter,” kata Multazam saat dihubungi, Jumat (19/06/2026).
Menurut dia, rendahnya curah hujan selama periode tersebut dapat menyebabkan krisis air bersih, terutama di wilayah pesisir yang selama ini bergantung pada air hujan untuk kebutuhan sehari-hari.
“Masyarakat mesti waspada dengan menyediakan air bersih yang cukup selama musim kemarau yang akan datang,” ujarnya.
BPBD memprediksi wilayah selatan Kotim menjadi kawasan yang paling rentan terdampak kekeringan. Daerah tersebut meliputi Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Pulau Hanaut, dan Teluk Sampit.
“Karena masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir itu rata-rata menggunakan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari,” tutur Multazam.
Selain kekeringan, musim kemarau juga berpotensi meningkatkan risiko karhutla. Kondisi lahan gambut yang mengering dinilai sangat rentan terbakar apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Multazam menjelaskan seluruh wilayah Kotim diperkirakan mengalami kondisi sangat kering dengan curah hujan hanya 0-20 milimeter atau berada pada kategori di bawah normal selama Juli hingga September 2026.
Kondisi tersebut dipengaruhi fenomena El Niño yang diperkuat Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Dampaknya tidak hanya meningkatkan suhu udara, tetapi juga memperpanjang periode kekeringan.
“Langkah pencegahan menjadi prioritas utama untuk menekan risiko meluasnya kebakaran, kemudian memitigasi risiko-risiko kekeringan di wilayah-wilayah rentan,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Kotim telah menyiapkan rencana kontingensi serta skenario operasi dalam status siaga maupun tanggap darurat.
Selain itu, BPBD memperkuat pengawasan melalui posko pemantauan, patroli rutin, serta pemantauan titik panas menggunakan sistem satelit dan laporan lapangan.
Masyarakat dan pemerintah desa juga diimbau menyiapkan sumber air cadangan, membuat jalur pemisah api atau firebreak, serta memastikan peralatan pemadam kebakaran dalam kondisi siap digunakan.
“Masker N95 juga perlu disiapkan sebagai antisipasi apabila kabut asap mulai terjadi dan mengganggu kesehatan masyarakat,” ujar Multazam.
BPBD meminta masyarakat terus memantau informasi cuaca, titik api, serta perkembangan penanganan bencana melalui kanal resmi pemerintah guna meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau tahun ini. ∎




