Solidaritas Semu dari Ajakan Ngopi, Menakar Opportunity Cost Budaya Nongkrong Mahasiswa Rantau

Ilustrasi tongkrongan. (Generate AI)

Perspektif Oleh: Isah Avrilia Zega

Mahasiswa Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangka Raya

Bagi mahasiswa rantau, kamar kost bukan sekadar tempat beristirahat dan tinggal, melainkan juga menjadi laboratorium sosial pertama tempat mereka belajar hidup mandiri.

Namun, di balik kebebasan tanpa pengawasan dari orang tua ini, muncul sebuah tantangan ekonomi yang sering kali kasat mata, yakni tekanan pergaulan yang mengubah pola konsumsi mahasiswa rantau yang sangat rentan secara emosional ketika hidup jauh dari keluarga atau orang tua.

“Guys, nongkrong yok, gabut banget nih!”

Sebuah ajakan yang sulit ditolak, seakan-akan sudah menjadi kewajiban sosial. Alasannya beragam, mulai dari bosan di kost, bertukar pikiran tentang tugas kampus, hingga melepas stres. Namun, pada kenyataannya, banyak dari mereka yang hanya ingin terlihat “eksis” di media sosial.

Tidak dapat dipungkiri, tren nongkrong memang memiliki dampak positif bagi mahasiswa. Dengan begitu, mereka dapat memperluas relasi dan akses yang dapat bermanfaat serta menjadi pendukung strategis untuk masa depan. Akan tetapi, saat ini tren nongkrong bergeser menjadi fenomena sosial dengan ikatan yang terbentuk secara semu atau dangkal (superfisial), yang dapat diartikan sebagai pergaulan atau pertemanan yang bersifat formalitas.

Berdasarkan data Indonesia Gen Z Report, mayoritas generasi muda menghabiskan waktu luang mereka untuk bersosialisasi secara fisik, namun sering kali terjebak dalam fenomena phubbing (sibuk dengan gawai masing-masing saat berkumpul). Inilah yang menciptakan solidaritas semu; hanya sekadar kehadiran fisik di meja kopi tanpa adanya keterlibatan batin.

Budaya nongkrong di kalangan mahasiswa zaman sekarang bukan hanya sekadar interaksi sosial biasa, tetapi juga menjadi pintu masuk menuju gaya hidup hedonis. Mereka terlena dengan gaya hidup yang dianggap “keren” sehingga lupa pada prioritas utamanya, yaitu kuliah.

Dengan gaya hidup seperti ini, mahasiswa sering kali terjebak dalam perilaku konsumtif yang boros demi kepuasan emosional agar terlihat “setara” di mata teman-temannya. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) menjadi penguat yang membuat mahasiswa sulit membatasi diri dan akhirnya terjebak dalam pergaulan yang mengutamakan prestise, pengakuan sosial, dan gengsi.

Mereka berpikir bahwa dengan cara tersebut mereka berhasil beradaptasi dengan gaya hidup kota besar dan menjadikannya sebagai pelarian psikologis. Padahal, hal itu tidak memberikan manfaat berarti, bahkan justru menambah dan memperparah beban yang dapat merugikan masa depan mahasiswa rantau. Mereka harus mengelola keuangan dengan lebih ketat, sementara kebiasaan baik dan kesehatan fisik perlahan ikut terganggu.

Fenomena ini menciptakan masalah alokasi sumber daya yang serius, yaitu tingginya biaya peluang (opportunity cost). Setiap rupiah yang dihabiskan mahasiswa untuk secangkir kopi seharga Rp25.000 hingga Rp35.000 merupakan pengorbanan terhadap peluang lain yang lebih produktif.

Jika seorang mahasiswa menghabiskan tiga malam dalam seminggu untuk nongkrong, maka dalam sebulan ia telah menghabiskan dana yang sebenarnya cukup untuk membeli buku referensi berkualitas, mengikuti kursus sertifikasi guna mengasah potensi, atau ditabung sebagai modal dan simpanan masa depan.

Tidak hanya uang, waktu yang terbuang selama tiga hingga empat jam dalam setiap sesi nongkrong juga berarti hilangnya kesempatan untuk mengembangkan keterampilan teknis yang dapat meningkatkan daya saing di pasar kerja.

Masalah ini diperparah oleh tingginya marginal propensity to consume (kecenderungan konsumsi) di kalangan mahasiswa. Kiriman uang dari orang tua yang seharusnya menjadi bahan bakar perjuangan akademis mahasiswa rantau justru habis di sektor jasa konsumtif, yaitu kafe.

Jika ribuan mahasiswa, bahkan seluruh mahasiswa di kota pendidikan, memiliki pola konsumsi serupa, maka ekonomi wilayah tersebut tumbuh di atas fondasi yang rapuh. Kita memang dapat melihat pertumbuhan UMKM kafe yang pesat, tetapi di sisi lain mahasiswa terancam mengalami kegagalan dalam dunia kerja di masa depan, bukan karena kurangnya kecerdasan, melainkan karena terlena mengejar gaya hidup dan pengakuan sosial sehingga lupa mengembangkan diri.

Solidaritas di meja kopi hanyalah semu jika harus dibayar dengan masa depan yang tidak pasti. Sudah saatnya mahasiswa rantau menjadi lebih bijak dalam menakar setiap cangkir kopi dengan nilai masa depan yang sedang mereka pertaruhkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *