Transaksi Menurun, Investor Tahan Dana di Pasar Saham Indonesia
SUAPIKIR.com, JAKARTA – Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih lesu meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis pada Jumat (10/07/2026).
Nilai transaksi yang rendah, aksi jual bersih investor asing, serta minimnya sentimen pasar membuat pelaku pasar memilih menunggu sebelum kembali menambah investasi.
IHSG ditutup naik 0,20 persen atau 11,91 poin ke level 5.924,26. Meski indeks menguat, nilai transaksi hanya mencapai Rp8,85 triliun dengan volume perdagangan 18,51 miliar saham.
Sepanjang pekan 6–10 Juli 2026, IHSG masih mencatat kenaikan 0,83 persen. Namun, investor asing membukukan net sell sebesar Rp1,31 triliun di seluruh pasar, termasuk Rp421,51 miliar pada perdagangan Jumat.
Praktisi pasar modal sekaligus Founder WH-Project, William Hartanto, menilai rendahnya transaksi menunjukkan pasar masih kekurangan sentimen.
“Nilai transaksi pada perdagangan akhir pekan hanya sekitar Rp7,5 triliun. Ini menunjukkan aktivitas pasar masih sangat sepi,” ujarnya.
Data BEI mencatat rata-rata nilai transaksi harian selama 6–10 Juli 2026 hanya Rp10,26 triliun. Angka tersebut menunjukkan investor belum agresif kembali masuk ke pasar saham.
Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing. Pada Rabu (08/07/2026), saat IHSG turun 1,89 persen, investor asing kembali mencatat jual bersih Rp689,80 miliar dengan nilai transaksi Rp10,54 triliun.
Sepanjang semester I-2026, kinerja IHSG juga masih tertekan. Pelemahan indeks membuat pasar saham Indonesia tertinggal dibandingkan sejumlah bursa saham di kawasan ASEAN.
Di tengah kondisi tersebut, sebagian dana investor diperkirakan beralih ke instrumen investasi lain yang dinilai lebih aman. Selain menempatkan dana pada obligasi ritel seperti ORI030, sebagian investor domestik juga mulai mengincar saham yang baru melantai melalui penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO).
Artinya, dana investasi tidak sepenuhnya keluar dari sistem keuangan, melainkan berpindah ke instrumen yang dianggap lebih defensif sambil menunggu arah pasar lebih jelas.
Dari sisi pergerakan saham, investor asing paling banyak melepas saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
Sebaliknya, investor asing masih mencatat pembelian bersih pada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Selain itu, saham MBMA, INCO, BRPT, BBTN, BBNI, DEWA, TINS, GOTO, dan ANTM juga masih menjadi incaran.
Kondisi tersebut menunjukkan investor asing tidak keluar dari seluruh saham secara merata. Mereka tetap melakukan akumulasi pada emiten yang dinilai memiliki fundamental, likuiditas, atau prospek yang lebih baik.
William Hartanto memproyeksikan IHSG pada Senin (13/07/2026) bergerak di kisaran 5.888 hingga 6.040. Menurutnya, transaksi yang sepi belum tentu menjadi sinyal negatif selama tekanan jual tidak meningkat.
Sementara itu, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak sideways di kisaran 5.800–6.000. Proyeksi tersebut dipengaruhi ketidakpastian global serta peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama yang berpotensi membatasi aliran dana ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Melihat kondisi tersebut, investor ritel disarankan lebih selektif dalam mengambil keputusan investasi. Selain memperhatikan pergerakan IHSG, investor juga perlu mencermati nilai transaksi, volume perdagangan, arus dana asing, serta pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar sebagai indikator kondisi pasar.
Rendahnya aktivitas perdagangan dan masih derasnya aksi jual investor asing menunjukkan pasar saham Indonesia belum sepenuhnya pulih. Sebagian pelaku pasar masih memilih menunggu kepastian arah pasar sebelum kembali meningkatkan investasinya.




