Akses Orang dan Barang Terhambat, Warga Keluhkan Jalan Rusak Desa Soren Kotim
SUAPIKIR.com, SAMPIT – Warga Desa Soren, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mengeluhkan kondisi jalan utama desa yang rusak parah dan belum kunjung diperbaiki. Jalan tersebut menjadi akses utama masyarakat untuk bekerja, bersekolah, berobat, hingga mengangkut hasil pertanian dan perkebunan.
Warga Desa Soren, Eef Saifullah (26), mengatakan kerusakan jalan telah berlangsung selama puluhan tahun dan masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan meski telah beberapa kali terjadi pergantian kepala daerah.
“Jalan rusak ini dari zaman Presiden Soeharto tahun 1997, berkali-kali ganti bupati. Di zaman Bupati Supian Hadi sempat digarap pakai ekskavator, tetapi setelah itu ditinggalkan dan sampai sekarang tidak ada kelanjutan,” kata Eef saat dihubungi, Minggu (21/06/2026).
Menurut Eef, kondisi jalan tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Warga mengalami kesulitan saat membawa hasil kebun menuju pasar maupun pusat kota.
Selain itu, jalan tersebut juga menjadi akses penting menuju fasilitas pendidikan dan layanan kesehatan bagi masyarakat setempat.
“Jalan ini merupakan akses utama warga untuk bekerja, sekolah, berobat, dan mengangkut hasil kebun. Namun kondisinya sangat memprihatinkan dan menyulitkan masyarakat setiap hari,” ujarnya.
Ia menjelaskan, jalan yang menghubungkan Desa Soren dengan Desa Camba dan Desa Simpur hingga kini masih mengalami kerusakan di sejumlah titik.
Menurutnya, kondisi jalan menuju Desa Soren jauh tertinggal dibandingkan akses jalan di desa-desa sekitar.
“Jalan ini sudah seperti itu sejak kami masih kecil. Sekarang kami sudah punya anak, tetapi tidak pernah ada progres yang berarti untuk perbaikannya,” katanya.
Eef menjelaskan, Desa Soren berada di antara Desa Camba dan Desa Simpur. Jarak menuju Desa Camba sekitar 4 kilometer, sedangkan ke Desa Simpur sekitar 1 kilometer.
“Desa Soren ini berada di tengah-tengah antara Desa Camba dan Desa Simpur. Jalan di dua desa itu sudah jauh lebih baik dibandingkan jalan menuju Desa Soren,” ujarnya.
Akibat kondisi tersebut, sebagian warga memilih menggunakan jalur sungai untuk menuju kota maupun mengangkut barang. Namun, biaya transportasi air dinilai cukup memberatkan, terutama bagi petani dan masyarakat berpenghasilan rendah.
“Kalau mau ke kota, sebagian warga terpaksa menggunakan angkutan air. Tetapi biayanya sangat mahal bagi petani seperti kami,” kata Eef.
Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan perbaikan jalan karena keberadaannya sangat vital bagi mobilitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi desa.
“Kami hanya menuntut hak kami sebagai warga negara. Jalan ini merupakan akses utama masyarakat untuk sekolah, ke rumah sakit, dan mengangkut hasil panen. Kami berharap suara kami bisa didengar pemerintah,” ujarnya.
Masyarakat juga meminta pemerintah melakukan pengecekan langsung ke lokasi sekaligus menjelaskan status kewenangan jalan tersebut, apakah berada di bawah pemerintah desa, kabupaten, provinsi, atau instansi lainnya.
Hingga berita ini ditulis, pihak terkait di Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur masih diupayakan untuk memberikan tanggapan atas keluhan warga tersebut.




