Pelajar di Kotim Lakukan Hal Tak Senonoh di Sekolah Viral, Disdik Kalteng Bakal Pasang CCTV
SUAPIKIR.com, SAMPIT – Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah mengusulkan pemasangan kamera pengawas (CCTV) di sekolah setelah beredarnya video yang memperlihatkan tindakan tidak pantas yang dilakukan peserta didik di salah satu SMA di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Peristiwa tersebut diketahui terjadi pada awal Juni 2026 dan telah ditangani pihak sekolah sebelum videonya beredar luas di media sosial.
Kepala Dinas Pendidikan Kalteng, Muhammad Reza Prabowo, mengatakan pihak sekolah lebih dahulu mengetahui kejadian tersebut dan telah mengambil langkah pembinaan terhadap siswa yang terlibat.
“Pihak sekolah sebenarnya telah lebih dulu mengetahui dan menangani persoalan tersebut sejak awal Juni 2026. Bahkan, langkah-langkah pembinaan dan penanganan telah dilakukan sebelum video tersebut menjadi perhatian publik,” kata Reza dalam keterangannya, Minggu (21/06/2026).
Sebagai upaya pencegahan, Disdik Kalteng berencana mengusulkan penguatan sistem pengawasan di lingkungan sekolah melalui pemasangan CCTV di ruang kelas maupun area strategis lainnya.
“Kami akan mencoba mengusulkan agar setiap sekolah dapat dipantau melalui CCTV, sehingga dapat memberikan rasa aman, nyaman, dan tertib di lingkungan sekolah. Dengan adanya pemantauan tersebut, setidaknya hal-hal seperti ini dapat diminimalisir,” ujarnya.
Meski demikian, Reza menegaskan penggunaan teknologi pengawasan tidak dapat berdiri sendiri tanpa diimbangi pembinaan karakter peserta didik.
Menurutnya, pendidikan karakter, etika, sopan santun, dan penguatan pola pikir harus terus dilakukan secara berkelanjutan oleh sekolah, keluarga, dan masyarakat.
“Dari sisi karakter dan mindset, itu yang akan terus kami tingkatkan dan benahi. Kami mohon doa dan dukungan seluruh masyarakat Kalimantan Tengah agar upaya menghadirkan pendidikan yang berkualitas sekaligus membentuk peserta didik yang beradab, beretika, dan menjunjung sopan santun dapat benar-benar terwujud,” katanya.
Disdik Kalteng menilai kejadian tersebut menjadi perhatian serius karena sekolah harus menjadi ruang yang aman dan mendukung pembentukan karakter peserta didik.
Sebagai tindak lanjut, pihak sekolah telah memanggil siswa yang terlibat bersama orang tua masing-masing untuk menjalani proses pembinaan dan penyelesaian secara edukatif.
“Kedua belah pihak beserta orang tuanya sudah dipanggil dan telah diberikan tindakan serta sanksi yang sesuai. Kami juga menambahkan kewajiban bagi yang bersangkutan untuk wajib lapor kepada guru Bimbingan Konseling (BK) agar mendapatkan pembinaan dan pendampingan lebih lanjut,” jelas Reza.
Ia menambahkan pembangunan pendidikan tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter generasi muda.
“Bapak Gubernur menginginkan anak-anak Kalimantan Tengah bukan hanya memiliki wawasan yang luas dan prestasi akademik yang baik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat. Karena itu hal-hal seperti ini tentu tidak semestinya terjadi di lingkungan sekolah maupun di kalangan siswa-siswi kita,” ujarnya.
Reza juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kejadian tersebut dan memastikan evaluasi akan dilakukan untuk mencegah peristiwa serupa terulang.
Berdasarkan hasil penelusuran, video tersebut direkam saat jam istirahat sekolah. Meski tidak terjadi ketika proses belajar mengajar berlangsung, kejadian itu tetap berada dalam lingkungan sekolah.
“Kami memohon maaf atas kejadian ini. Walaupun terjadi saat jam istirahat dan bukan saat pembelajaran berlangsung, tetap saja kejadiannya berada dalam lingkungan sekolah dan menjadi perhatian kami untuk dilakukan evaluasi,” katanya.
Disdik Kalteng mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mengawal pembangunan pendidikan agar mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter sesuai nilai Huma Betang dan Belom Bahadat.
“Sekali lagi kami memohon maaf dan mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mengawal pembangunan pendidikan. Karena keberhasilan pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah atau pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya.




