Harga Pertamax Naik, Pelaku UMKM Khawatir Biaya Operasional Membengkak
SUAPIKIR.com, PALANGKA RAYA – Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dinilai dapat memberi tekanan baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Dampaknya tidak hanya terasa di SPBU, tetapi juga berpotensi merambat ke biaya operasional usaha harian.
Praktisi UMKM sekaligus pemilik bisnis food and beverage (F&B) Along Space asal Kalimantan Tengah, Muhammad Asary, mengatakan kenaikan harga energi dapat langsung memengaruhi biaya distribusi, belanja bahan baku, mobilitas karyawan, hingga pengiriman produk.
“Bagi UMKM, kenaikan BBM itu bukan sekadar angka di SPBU. Dampaknya bisa masuk ke biaya antar barang, belanja bahan baku, distribusi produk, sampai ongkos operasional harian,” kata Asary, Rabu (10/06/2026).
Menurut Asary, sektor F&B termasuk salah satu bidang usaha yang cukup sensitif terhadap kenaikan biaya. Sebab, pelaku usaha harus menjaga harga jual tetap kompetitif, sementara biaya bahan baku, logistik, dan operasional terus bergerak naik.
Ia menilai, pelaku UMKM tidak selalu memiliki ruang besar untuk menaikkan harga jual. Jika harga dinaikkan, risiko kehilangan pembeli menjadi lebih besar. Namun jika harga tetap dipertahankan, margin keuntungan akan semakin tipis.
“Masalahnya, UMKM tidak selalu bisa langsung menaikkan harga. Kalau harga dinaikkan, pembeli bisa berkurang. Kalau tidak dinaikkan, keuntungan makin kecil. Jadi pelaku usaha kecil berada dalam posisi yang sangat sulit,” ujarnya.
Asary menyebut kenaikan Pertamax juga dapat memengaruhi ekosistem usaha kecil secara tidak langsung. Biaya pengiriman bahan baku, pembelian kebutuhan operasional, hingga mobilitas layanan dapat ikut terdorong naik.
Kondisi tersebut, kata dia, berpotensi memperberat pelaku UMKM yang baru mulai pulih dari tekanan ekonomi. Terutama usaha kuliner, perdagangan kecil, jasa antar, dan usaha rumahan yang bergantung pada perputaran harian.
“UMKM itu banyak yang hidup dari perputaran harian. Ketika biaya transportasi naik sedikit saja, dampaknya bisa terasa ke modal kerja. Apalagi kalau bahan baku juga ikut naik karena biaya distribusi meningkat,” kata Asary.
Ia menilai pemerintah perlu membaca dampak kenaikan BBM secara lebih luas. Kebijakan harga energi tidak boleh hanya dilihat dari sisi BBM nonsubsidi, tetapi juga dari dampak psikologis dan rantai biaya yang muncul di pasar.
Menurut Asary, kenaikan harga Pertamax dapat memicu penyesuaian harga di sektor jasa dan distribusi. Jika tidak diantisipasi, beban tersebut pada akhirnya bisa diteruskan kepada konsumen.
“Efeknya bisa berantai. Dari ongkos kirim naik, bahan baku naik, lalu harga jual ikut naik. Kalau daya beli masyarakat sedang lemah, UMKM yang paling dulu merasakan dampaknya,” ujarnya.
Asary meminta pemerintah menyiapkan langkah mitigasi bagi pelaku UMKM. Salah satunya dengan memastikan harga kebutuhan pokok dan bahan baku usaha tetap terkendali agar kenaikan BBM tidak memicu tekanan tambahan.
Ia juga mendorong pemerintah memperkuat akses pembiayaan murah, menjaga biaya logistik, serta mengawasi kenaikan harga bahan baku yang tidak wajar di pasar.
“Pemerintah perlu hadir bukan hanya menjelaskan alasan kenaikan, tetapi juga menyiapkan bantalan. UMKM butuh kepastian harga bahan baku, akses modal yang ringan, dan biaya logistik yang tidak semakin berat,” kata Asary.
Menurutnya, UMKM selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. Karena itu, setiap kebijakan yang berpotensi menekan biaya usaha kecil harus disertai perhitungan dampak yang matang.
Asary menegaskan, ketahanan ekonomi nasional tidak hanya ditentukan oleh stabilitas fiskal, tetapi juga oleh kemampuan usaha kecil bertahan di tengah kenaikan biaya hidup dan biaya produksi.
“Kalau UMKM melemah, dampaknya bukan hanya ke pengusaha kecil. Pekerja ikut terdampak, pemasok ikut terdampak, dan konsumsi rumah tangga juga ikut turun,” katanya.
Ia berharap pemerintah lebih sensitif terhadap kondisi pelaku usaha kecil di lapangan. Menurutnya, banyak UMKM saat ini masih menghadapi tantangan daya beli, kenaikan harga bahan baku, cicilan usaha, dan biaya operasional yang terus bergerak naik.
Kenaikan harga Pertamax menjadi pengingat bahwa kebijakan energi tidak berdiri sendiri. Di tingkat pelaku UMKM, setiap kenaikan biaya dapat memengaruhi keputusan usaha, mulai dari mengurangi stok, menaikkan harga, memangkas keuntungan, hingga menunda ekspansi.
“UMKM tidak anti terhadap penyesuaian kebijakan, tetapi pemerintah harus memastikan dampaknya tidak membuat usaha kecil semakin terjepit,” tutup Asary.




